::
Start
sumber informasi dan persahabatan

Navbar3

Search This Blog

Senin, 29 Oktober 2012

Strategi Zionis Israel Laparkan Gaza Terbongkar



Sekitar 6,5 tahun lalu, tidak lama setelah Hamas memenangkan pemilu Palestina dan mengambil alih Gaza, seorang pejabat senior ‘Israel’ mengungkapkan sebuah rencana terhadap rakyat Palestina sebagai respons atas kemenangan tersebut. “Idenya adalah membuat rakyat Palestina berdiet, bukan membuat mereka mati kelaparan,” ujarnya.
Ide tersebut ternyata bukan wacana belaka. Sebuah artikel yang diterbitkan Occupied Palestine (berjudul “Israel Formula’s for a Starvation Diet: How 400 Trucks to Feed Gaza Became 67″) yang ditulis Jonathan Cook, seorang jurnalis di kota Nazareth, memaparkan sejumlah bukti kuat bahwa ide membuat rakyat Palestina ‘berdiet’ benar-benar jadi kebijakan Zionis ‘Israel’.
Cook yang tahun ini memenangkan penghargaan Martha Gellhorn di bidang jurnalisme menyebutkan, para pejabat kesehatan telah menghitung jumlah kalori minimum yang dibutuhkan oleh 1,5 juta warga Gaza untuk menghindari kekurangan Gizi. Angka-angka itu kemudian diterjemahkan pada jumlah truk-truk pengangkut makanan dari ‘Israel’ yang seharusnya masuk ke Gaza setiap harinya.
Warga Gaza rata-rata membutuhkan 2.279 kalori per hari untuk menghindari kekurangan gizi. Artinya dibutuhkan minimal 170 truk pembawa makanan setiap harinya. Pihak militer Zionis ‘Israel’ secara sistematis mengurangi jumlah kebutuhan kalori ini, dengan mengurangi terus jumlah truk makanan yang boleh masuk ke dalam Gaza.
Saat ini, hanya ada 67 truk pembawa makanan yang masuk ke Gaza setiap harinya. Jumlah itu tidak sampai setengah dari seharusnya. Pada masa Gaza dikuasai dan diperintah oleh Zionis Israel dan pemerintah otorita Palestian di bawah Mahmoud Abbas, rata-rata 400 truk makanan masuk ke dalam Gaza setiap harinya.
Selain mengurangi jumlah masuknya truk makanan, aparat Zionis ‘Israel’ di perbatasan juga secara sengaja menunda masuknya truk-truk tertentu yang berakibat terlalu lamanya berton-ton bahan makanan terpapar sinar matahari sampai membusuk.
Selain itu, laporan Cook yang mengutip dokumen yang disebut dokumen “Garis Merah” juga mengungkapkan, bahwa truk-truk makanan yang mengandung nutrisi dua kali lebih rendah dibiarkan masuk jauh lebih banyak daripada truk-truk pembawa susu, buah-buahan, dan sayuran.
Robert Turner, Direktur UNRWA (badan PBB untuk urusan pengungsi Palestina) di Jalur Gaza menuturkan impor pangan di Gaza telah berada di bawah “garis merah”. Menurut Cook, tidak dibutuhkan seorang ahli untuk membuktikan kebijakan diet ‘Israel’ ini berdampak pada kekurangan gizi, terutama di kalangan anak-anak.
Masih menurut Cook, tujuan utama strategi melaparkan rakyat Gaza ini dimaksudkan untuk mendorong terjadinya keresahan di kalangan rakyat Gaza, sehingga kemudian memberontak terhadap pemerintahan Hamas yang dipimpin oleh Perdana Menteri Ismail Haniyah.
Beberapa taktik Zionis ‘Israel’ lain yang terungkap dalam dokumen “Red Lines”:
1. Membom satu-satunya pembangkit listrik Gaza pada 2006 lalu dan melarang segala upaya perbaikan.
2. Menolak pembangunan pabrik desalinasi (proses pengubahan air laut menjadi air tawar) yang merupakan satu-satunya cara untuk mencegah kontaminasi pasokan air di Jalur Gaza.
3. Memaksa penduduk desa pindah ke kota yang sudah sesak dan tinggal di kamp-kamp pengungsi.
4. Blokade berkelanjutan atas ekspor, menghancurkan semua komunitas bisnis Gaza dan memastikan rakyat Gaza terus bergantung pada bantuan asing, yang lebih mudah dikontrol oleh Zionis ‘Israel’.
Pada bulan Agustus yang lalu, PBB mengeluarkan peringatan, kalau berbagai taktik dan strategi Zionis Israel itu terus dilanjutkan maka pada tahun 2020 Jalur Gaza tidak layak lagi untuk dihuni.

0 komentar: